Bu sayfayı kendi dilinde görüntüleyebilirsin.Değiştir
You can view this page in your own language.Switch
Du kannst diese Seite in deiner Sprache ansehen.Wechseln
Puedes ver esta página en tu idioma.Cambiar
Tu peux consulter cette page dans ta langue.Changer
Puoi vedere questa pagina nella tua lingua.Cambia
Je kunt deze pagina in je eigen taal bekijken.Wisselen
Możesz zobaczyć tę stronę w swoim języku.Zmień
Du kan se den här sidan på ditt eget språk.Byt
Você pode ver esta página no seu idioma.Trocar
आप यह पेज अपनी भाषा में देख सकते हैं।बदलें
이 페이지를 사용하는 언어로 볼 수 있어요.바꾸기
このページはあなたの言語で表示できます。切り替える
يمكنك عرض هذه الصفحة بلغتك.تغيير
Baru di sini?

Kami menggunakan cookie

Cookie dan penyimpanan browser membuat situs ini berfungsi dan, jika kamu mengizinkan, mengukur cara situs ini digunakan. Kamu bisa kapan saja. Pelajari lebih lanjut di kebijakan cookie kami.

  • Hashim Djojohadikusumo dan Sorotan atas Ekonomi Abu-Abu Indonesia

    Hashim Djojohadikusumo menjadi bahan pembicaraan publik setelah pernyataannya di Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026. Ia adalah Anggota Dewan Penasihat Prasasti Center for Policy Studies dan saat ini menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden. Dalam forum itu ia memaparkan bahwa sebagian besar aktivitas ekonomi Indonesia masih belum tersentuh pajak. Pernyataannya soal angka ekonomi abu-abu yang besar dan rencana digitalisasi bantuan sosial membuat namanya ramai diperbincangkan.

1 / 20 · 9s

Hashim Djojohadikusumo dan Ekonomi Abu-Abu RI

Admin2 pesan

Ringkasan pernyataan Hashim Djojohadikusumo soal ekonomi abu-abu, penerimaan negara, dan rencana digitalisasi bantuan sosial beserta sumbernya.

Kenapa “hashim djojohadikusumo” sedang tren? Ringkas perkembangan terbaru beserta sumbernya.

Sudah dicari di web

Kenapa tren: Hashim Djojohadikusumo (Utusan Khusus Presiden) jadi sorotan setelah pernyataannya di Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa (13/10), soal ekonomi abu-abu Indonesia dan rencana digitalisasi bantuan sosial.

Poin-poin utamanya:

  • Ekonomi abu-abu 35–45%. Ia menyebut data Bank Dunia memperkirakan ekonomi abu-abu RI sekitar 35–40% dari ekonomi nasional (angka yang beredar 35–45%), sehingga ukuran ekonomi RI "bukan hanya US$1,5 triliun, melainkan mendekati US$2,1 triliun" (Katadata, Bisnis.com).
  • Kritik penerimaan negara. Ia menilai penerimaan negara rendah karena "tak ada political will", sementara pemerintah menargetkan rasio penerimaan naik ke 18% dalam 2–3 tahun (Bloomberg Technoz, iPol).
  • Rencana HP gratis & rekening bank. Pemerintah berencana membagikan HP gratis dan membuka rekening bank bagi warga unbanked, bagian dari digitalisasi bantuan sosial dan transaksi (CNN Indonesia, 14/10).
  • Konteks pajak digital. Dorongan ini menyusul pemungutan PPh Pasal 22 0,5% dari omzet oleh Shopee, Blibli, Tokopedia, dan Lazada mulai 1 Oktober 2026 (PMK-37/2025), menurut Dirjen Pajak Bimo Wijayanto (Katadata).
  • Isu lain: ia juga memaparkan peran Program Makan Bergizi Gratis dalam peningkatan kualitas SDM di hadapan peraih Nobel Ekonomi 2024 James A. Robinson (Antara Sultra).

Kalau mau, saya bisa buat ringkasan versi lebih pendek untuk dibagikan atau cari reaksi publik/ekonom atas pernyataan ini.

Lanjutkan dari obrolan ini

Lanjutkan topiknya dengan pertanyaanmu sendiri: ringkasan obrolan ini menjadi konteks obrolan barumu.

Bagikan

Ekonomi Abu-Abu dan Digitalisasi Pajak: Sorotan Hashim Djojohadikusumo

Ringkasan ini dibuat oleh AI dari obrolan.

Hashim Djojohadikusumo menyoroti ekonomi abu-abu Indonesia yang belum tersentuh pajak dan mendorong digitalisasi bantuan sosial serta transaksi keuangan.

Ekonomi Abu-Abu 35–40 Persen dari Ekonomi Nasional

Dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta pada Selasa, 13 Oktober 2026, Hashim Djojohadikusumo, Anggota Dewan Penasihat Prasasti Center for Policy Studies, menyatakan bahwa ekonomi abu-abu Indonesia mencapai 35–40 persen dari ekonomi nasional. Angka ini merujuk pada data Bank Dunia. Sumber lain menyebut rentang 30–40 persen (Harian Jogja) dan 35–45 persen (IDN Times). Ekonomi abu-abu adalah aktivitas ekonomi yang tidak tercatat atau tidak terpajak secara resmi. Dengan estimasi tersebut, Hashim menilai ukuran ekonomi Indonesia bukan hanya sekitar US$1,5 triliun, melainkan mendekati US$2,1 triliun (Katadata).

Rasio Penerimaan Negara yang Stagnan

Hashim menyoroti rasio penerimaan negara yang bertahan di 12 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) selama 13 tahun terakhir. Angka ini lebih rendah dibanding Kamboja (18 persen) dan Vietnam (23 persen). Menurutnya, selisih 6 poin persentase berarti kegagalan mengumpulkan sekitar US$90 miliar per tahun (Harian Jogja). Ia menilai rendahnya penerimaan negara karena kurangnya political will atau kemauan politik. Pemerintah menargetkan rasio penerimaan naik ke 18 persen dalam 2–3 tahun, sebagaimana disampaikan Prabowo (IDN Times).

Digitalisasi Pajak Perdagangan Elektronik

Langkah digitalisasi pajak mulai terlihat dari pemungutan PPh Pasal 22 atas pedagang dalam negeri melalui marketplace. Pemungutan ini berlaku mulai 1 Oktober 2026 oleh empat penyelenggara Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) yang ditunjuk melalui Keputusan Dirjen Pajak pada 24 September 2026. Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto menyampaikan hal ini (Katadata). PPh Pasal 22 adalah pajak yang dipungut atas transaksi jual beli barang tertentu. Empat platform yang ditunjuk adalah Shopee, Blibli, Tokopedia, dan Lazada. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 37/2025.

Rencana HP Gratis dan Rekening Bank untuk Warga Unbanked

Pemerintah berencana membagikan HP gratis dan membuka rekening bank bagi warga yang belum memiliki akses perbankan (unbanked). Rencana ini merupakan bagian dari digitalisasi bantuan sosial dan transaksi keuangan (CNN Indonesia, 14 Oktober 2026). Menurut IDN Times, sekitar 30 persen penduduk Indonesia masih unbanked. Penugasan pembukaan rekening diberikan kepada Bank Syariah dan Bank Rakyat. Tujuannya agar bantuan sosial tersalurkan secara digital dan transaksi tercatat, sehingga potensi pajak dari aktivitas ekonomi yang sebelumnya tidak terlihat dapat tergali. Namun, detail teknis dan jadwal pelaksanaan belum dijelaskan secara rinci.

Konteks Perbandingan dengan Negara Tetangga

Rasio penerimaan negara Indonesia yang 12 persen terhadap PDB berada di bawah Kamboja dan Vietnam. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Indonesia belum mengoptimalkan pemungutan pajak dari sektor-sektor yang tumbuh, termasuk ekonomi digital dan ekonomi abu-abu. Hashim menilai bahwa dengan meningkatkan rasio penerimaan, pemerintah dapat membiayai program pembangunan tanpa harus menambah utang. Target 18 persen dalam 2–3 tahun dianggap sebagai upaya mengejar ketertinggalan. Namun, angka ini masih di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah lainnya.

Respons dan Tantangan Implementasi

Pernyataan Hashim memicu diskusi publik mengenai efektivitas digitalisasi pajak dan bantuan sosial. Beberapa pihak menyoroti risiko ketergantungan pada platform digital dan perlunya perlindungan data pribadi. Tantangan lain adalah kesiapan infrastruktur di daerah terpencil serta literasi digital warga unbanked. Meskipun demikian, langkah ini sejalan dengan tren global menuju administrasi pajak yang lebih transparan. Keberhasilan akan bergantung pada koordinasi antara Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Pajak, dan lembaga terkait. Evaluasi berkala diperlukan untuk memastikan target penerimaan tercapai.

Program Makan Bergizi Gratis dalam Peningkatan SDM

Dalam forum yang sama, Hashim juga memaparkan peran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Ia menyampaikan hal ini di hadapan peraih Nobel Ekonomi 2024, James A. Robinson (Antara Sultra). Program MBG bertujuan memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah untuk mendukung pertumbuhan dan kemampuan belajar. Menurut Hashim, investasi pada gizi anak merupakan fondasi pembangunan ekonomi jangka panjang. Namun, ia tidak menyebutkan data spesifik mengenai dampak program tersebut terhadap produktivitas atau pertumbuhan ekonomi.

Sumber

Sumber web yang dipakai saat menulis artikel ini.

Ulasan

Masuk untuk menulis ulasan.

Belum ada ulasan. Tulis yang pertama.

Ajukan pertanyaanmu sendiri

Mulai gratis dengan 10 kredit per hari.

Mulai mengobrol

Parameter keamanan

  • Skor keamananLolos
    95/100Ambang 50
  • JelajahiTercantum
  • Mesin pencariDapat diindeks
  • Konten serupaTidak ada konten serupa
    0%Ambang 60%

Halaman yang sangat mirip dengan halaman yang terbit lebih dulu tidak diindeks agar tidak bersaing dengannya; halaman tetap bisa dibaca.